Siapa
yang tak kenal Najwa Shihab, 38, presenter tenar dari sebuah acara
talkshow salah satu stasiun TV swasta di Indonesia. Namun, sebagai anak
wanita dari seorang ulama yang tersohor di indonesia, banyak yang
mempertanyakan cara berpakaian host Mata Najwa di, MetroTV ini.
Memang
benar, wanita kelahiran Makassar 16 september 1977 ini hidup dalam
lingkungan keluarga yang religius dan demokratis. Nana kecil, saat di
Makassar, sudah masuk TK Al-Quran. Dia masih ingat betul, kalau
melakukan kesalahan, sang guru memukulnya dengan kayu kecil. Sekolah
Dasar di Madrasah Ibtidaiyah Nurul Hidayah (1984-1990), lalu SMP
Al-Ikhlas, Jeruk Purut, Jakarta Selatan, pada 1990-1993.
Najwa Shihab bersama ayahnya
Aktivitas sampai SMU, dipimpin ibunya, Nana dengan lima orang saudaranya sejak maghrib harus ada di rumah. “Jadi berjamaah maghrib, ngaji Al-Quran, lalu ratib Haddad bersama. Itu ritual keluarga sampai saya SMU,” tutur Nana. Setelah kuliah, karena banyak kegiatan, Nana baru boleh keluar setelah magrib.
Keluarganya memang sangat memprihatikan faktor pendidikan. “Pendekatan
pendidikan di keluarga tidak pernah dengan cara-cara yang otoriter.
Saya rasa itu sangat mempengaruhi, bagaimana pola didik orang tua ke
anak akan mempengaruhi perilaku,” ujarnya.
Pendidikan,
bagi keluarga Shihab, adalah nomor wahid, tidak bisa ditawar-tawar.
Dulu waktu kelas dua SMU, Nana dapat kesempatan AFS (America Field
Service), program pertukaran pelajar ke Amerika. Sempat keluarga menolak
karena harus melepas selama setahun anak cewek yang baru usia 16 tahun
tinggal di keluarga asuh. “Sempat terjadi perdebatan keluarga. Waktu itu
yang paling mendukung ayah saya. Apa pun untuk pendidikan akan
diperbolehkan, dalam usia itu pun beliau sudah memberikan kepercayaan,
walaupun di sana dia sudah dibekali agama, mereka percaya shalatnya
tidak akan ditinggal. Dan alhamdulillah saya bisa menjaga kepercayaan
itu,” cerita Nana.
Sekembali
ke Tanah Air, Nana menyelesaikan SMA nya dan sukses menembus bangku
kuliah UI melalui jalur PMDK, jalur tanpa tes Sipenmaru. Dia diterima di
Fakultas Hukum UI dan lulus tahun 2000.
Quraish Shihab, pakar tafsir Alquran itu, bagi Nana, adalah sosok bapak yang santai. “Seneng joke-joke Abu Nawas, ketawa-ketawa,” kisahnya. Jadi beliau, kata Nana, membebaskan pilihan kepada anak-anaknya untuk sekolah ke mana saja.
Tidak hanya persoalan pendidikan, kebebasan juga diberikan oleh sang bapak untuk menentukan pasangan hidupnya. “Bahkan saat saya memutuskan untuk nikah muda, 20 tahun, ayah memberi kepercayaan. Bagi beliau yang penting kuliah selesai.”
Menjelang pernikahan, kata Nana, keluarga sempat ragu, tapi karena
pengalaman kakak yang nikah saat usia 19 tahun akhirnya diizinkan. Tapi
sebelum itu mereka sekeluarga umroh dulu. “Di sana ayah bertanya, ‘udah mantep?’ saya jawab, ‘udah’. Ya sudah diizinkan,” tutur Nana.
(Ketika
masih kuliah itulah, Nana bertemu dengan Ibrahim Sjarief Assegaf,
seniornya di Fakultas Hukum UI dan sesama aktivis kampus ketika itu.
Ibrahim adalah pemuda asal Solo keturunan Arab – kini menjadi lawyer
sebuah firma hukun ternama ibukota. Keduanya saling tertarik sebelum
akhirnya memutuskan untuk menikah muda. Saat itu Ibrahimmasih semester
6, sementara Nana masih berusia 20 tahun. Pernikahan digelar di Solo
pada 1997. Tahun 2001, keduanya dianugerahi bayi laki-laki yang akrab
dipanggil Izzat).
Najwa Shihab bersama suami dan anaknya
(Menjelang
akhir kuliah dan sambil menulis skripsi, Nana magang menjadi reporter
di RCTI. Tahun 2001 ia memilih bergabung dengan Metro TV karena stasiun
TV itu dinilai lebih menjawab minat besarnya terhadap dunia jurnalistik.
Untuk mendalami dunia jurnalistik yang sudah terlanjur menyatu dengan
jiwanya, pada tahun 2008 ia terbang ke Australia mendalami hukum media,
berkat raihan Full Scholarship for Australian Leadership Awards).
Kendati
dalam keluarga religius, soal pakai jilbab tak menjadi keharusan.
Menurut Nana, kalau orang pakai jilbab itu bagus, kalau tak berjilbab
juga tidak apa-apa. “Saya sih seperti itu dan saya percaya itu.”
Karena
memang, kata Nana, alasan ayahnya yang lebih penting adalah terhormat.
Karena bukan berarti yang berjilbab tidak terhormat dan yang berjilbab
sangat terhormat, karena kan masih banyak interpretasi tentang hal itu.
Menurut Nana, yang penting tampil terhormat dan banyak cara untuk terhormat selain dengan jilbab. “Tidak pernah ada keharusan untuk berjilbab,” ucapnya.
Dengan cara berpakaian seperti itu, kata Nana, tak pernah ada yang komplain. “Karena
mungkin melihat ayah, kalau ditanya orang pendapatnya membolehkan,
membebaskan berjilbab atau tidak. Jadi banyak alasan dari ayah saya.
Kalau ada yang komplain, paling pas bercanda. Dan saya selalu bilang: ya
Insya Allah mudah-mudahan suatu saat. Yang pasti hatinya berjilbab
kok.”
Nana kagum pada yang pakai jilbab dan menutup aurat. Dia ingin juga pakai jilbab, mungkin suatu saat. “Sampai saat ini saya tidak merasa ada kewajiban atau beban untuk berjilbab,” katanya, “Karena sejauh saya bisa menjalankan kewajiban saya sebagai muslimah tidak masalah berjilbab atau tidak.”
Meski
kini ada rekan reporter yang mengenakan jilbab, Nana tidak terpengaruh.
Sampai saat ini, dia merasa apa yang dilakukannya sudah berada pada
jalur yang benar. Kalau nanti ada hidayah lebih lanjut, atau kemantapan
memakai jilbab, tanpa ragu Nana akan memakainya.
“Apa
yang dilakukan orang kan bukan berarti kita akan terpengaruh. Kalau
sekarang ada yang berjilbab kemudian saya ikut. Menurut saya, rugi kalau
berjilbab alasannya itu,” ujarnya sebagaimana dilansir Majalah Syir’ah.
Benarkah Quraisy Shihab tidak Mewajibkan Putrinya untuk Berjilbab?
Dalam
sumber ini disebutkan bahwa Quraisy Shihab termasuk bagian dari
sejumlah orang yang menempatkan berjilbab (menutup aurat) pada posisi
khilafiyah, sebagaimana ditulisnya dalam sebuah buku berjudul Jilbab,
Pakaian Wanita Muslimah: Pandangan Ulama Masa Lalu dan Cendekiawan
Kontemporer di tahun 2006.
Menurut
Quraisy, ayat-ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang pakaian wanita
mengandung aneka interpretasi. Selain itu, ketetapan hukum tentang batas
yang ditoleransi dari aurat atau badan wanita bersifat zhanniy atau
dugaan semata.
Quraisy
juga bersikap, bahwa adanya perbedaan pendapat para pakar hukum tentang
batasan aurat adalah perbedaan antara pendapat-pendapat manusia yang
mereka kemukakan dalam konteks situasi zaman serta kondisi masa dan
masyarakat mereka, serta pertimbangan-pertimbangan nalar saja.
Dari
pendapat tersebut pulalah kemudian Quraisy Shihab dicap oleh sebagian
orang sebagai penganut dan penyebar ajaran Syi’ah yang militan di
Indonesia.
Soal
benar dan tidaknya tuduhan tersebut, barangkali sikap demokratis
ayahnya itulah menjadikan Najwa Shihab (belum) berjilbab hingga sekarang
seperti yang selalu kita lihat saat tampil di layar kaca. Wallahu
a’laam
ADS HERE !!!